Selasa, 30 Oktober 2018…
Siapa, sih
penulis tanah air yang karnyanya paling banyak kamu ikutin? Asma Nadia? Dee
Lestari? Andrea Hirata? Aatau Boy Chandra? Adakah dari kalian pengkitut novel-novel
Tere Liye? Kalau ya, maka kita ada di satu lingkaran yang sama.
Tere Liye bisa disebut sebagai
penulis tanah air yang paling produktif saat ini. Tak hanya dari sisi
kuantitas, tapi juga di kualitas setiap bukunya. Dari total 31 bukunya, hampir
kesemuanya dicap best-seller sampai harus
cetak ulang puluhan kali. Tere Liye juga memiliki fanbase yang cukup besar, terutama di kalangan pembaca remaja usia
sekolahan.
Memang, berbeda dengan Ibu Suri Dee,
misalnya, yang sangat lekat dikenal publik lewat seri Supernovanya, atau Pak Cik Andrea Hirata yang populer dari tetralogi
Laskar Pelangi yang begitu
legendaris. Karya-karya Tere Liye ‘tak begitu’ dikenal secara luas (artinya
lingkup novelnya hanya berpusat pada pembaca-pembaca dengan segmentasi
tertentu) dan kepopuleran setiap novelnya cenderung merata (tidak booming pada satu novel, tapi novel yang
lainnya biasa-biasa saja).
Ini mungkin karena novel-novel
karangan Tere Liye dikemas lewat penuturan serta tema yang luar biasa
sederhana, sehingga banyak pembaca yang ‘gengsi’ menjadikan novel tersebut
sebagai bahan bacaan. Seperti diketahui novel-novel karangan Bang Tere selalu
mengusung topik seputaran keluarga dan kesederhanaan hidup.
Bandingkan dengan novel
Supernova-nya Dee. Di buku pertamanya, Kesatria,
Putri dan Bintang Jatuh, Dee menggebrak dunia literasi Indonesia dengan
pemaparan cerdas soal fisika kuantum. Orang yang berhasil menyelesaikan membaca
novel itu, tentu merasa lebih keren dong, kalau cuma dibanding mereka yang baca
novel tentang anak buta tuli yang mencoba menyebut nama Tuhannya…
Banyak yang memandang Tere Liye
sebelah mata. Bahkan, mungkin Tere Liye adalah penulis Indonesia pertama yang
punya hatters. Coba kalian cari penulis
mana yang bahkan pembaca novelnya dikatai munafik dan sok bijak?!
Kenapa sih orang-orang pada sentiment
sama Tere Liye? Karena ini?
1.
Tere Liye Si Penulis Receh
Banyak sekali
lho mereka yang bahkan belum membaca satu pun novel beliau mencaci Tere Liye sebab nama pena yang
digunakan berasal dari Bahasa India yang berarti “untukmu”. Mengomentari penggunaan
judul salah satu novelnya, Daun yang
Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, menjiplak sebuah kutipan milik Zatoichi, Si
Samurai Buta yang dialih-bahasakan secara bulat. Padahal, bukankah hal itu
sah-sah saja dilakukan dan banyak sekali penulis yang melakukan itu?
Pertanyaannya sekarang,
situ yang kritik sudah bisa belum buat
cerita yang (paling tidak) sama tebalnya dengan novel itu?
Kemudiaan dari sisi
tema. Orang-orang yang merasa sudah merasa kenyang dengan buku karangan luar,
biasannya akan langsung buang muka bila disuruh baca novel Tere Liye. Dengan
bangga dan lantang mereka akan berkata, “katakana tidak pada Tere Liye!”
Saya rasa
orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang terlalu sering baca novel beralur
rumit, dengan gaya bahasa selangit. Hingga mereka lupa, bahwa hal-hal terbaik
justru dating dari sesuatu yang sederhana.
Lewat
novel-novelnya, Tere Liye mengusung sebuah tema, yang kendati terlihat
sederhana, tapi memilki esensi dan nilai yang penting. Dan saya, benar-benar
telah merasakan manfaat dari novel-novel beliau di kehidupan nyata. Terserah
kalau kalian hendak mengatai saya munafik atau sok suci!
2.
Tere Liye Si Kontroversial
Selain buku-bukunya,
Tere Liye juga kerap menjadi bahan perbincangan karena tindakan-tindakan yang
ia lakukan. Sebut saja ketika ia mengatakan bahwa LGBT itu sebuah kelainan
jiwa. Ketika ia berpendapat kaum sosialis tak berperan sama sekali, dalam proses
perebutan kemerdekaan NKRI. Atau ketika beliau melarang para remaja menggunakan
kutipan novelnya sebagai caption foto
selfie. Dan yang paling fenomenal,
yaitu ketika beliau memutuskan berhenti menulis akibat tak adilnya perlakuan pajak
bagi penulis.
Kita semua tahu,
dari sanalah para pembenci Tere Liye muncul.
Saya sadar
betul, sulit memang (jika tak bisa dikatakan mustahil), menilai sebuah karya
secara bulat tanpa memandang siapa yang mebuat karya tersebut. Di sekolah, kita
juga diajarkan soal dua unsur pembangun novel yang paling utama, yaitu unsur
intrinsik (meliputi tema, latar, tokoh, dsb) serta unsur ekstrinsik (meliputi
latar belakang sang penulis).
Sehingga, bisa
dikatakan sah-sah saja kita menilai sebuah novel, juga dari siapa penulisnya.
Tapi pertanyaannya, apa hal itu bijak dilakukan? Saya rasa tidak.
Kenapa harus bersikap
‘risih’ pada novel Tere Liye, hanya karena tak suka sikap beliau yang terkesan
arogan? Bukankah kita tak bermasalah membaca novel-novel yang penulisnya
berkeyakinan beda dengan kita? Mamaparkan (baca:mengajarkan) budaya-budaya yang
tidak sesuai dengan norma dan aturan kita. Atau jika mau melangkah lebih jauh
lagi, bukankah kita masih bisa menerima petuah-petuah bijak Aristoteles, padahal ia seorang sexism (orang
yang menganggap wanita tidak setara dengan pria, sehingga mereka harus patuh
dan tunduk). Bukankah kita senang-senang saja menikmati benderangnya dunia
lewat temuan Thomas Edison, tanpa menghiraukan
kalau ia orang yang gemar menyiksa hewan. Einsten
yang doyan slingkuh, Newton yang
angkuh, semua pemikiran orang-orang itu masih bisa kita nikmati sampai sekarang.
Bukankah ini menunjukkan, dalam seni bukan
soal siapa, tapi apa karya yang disuguhkan kepada kita. Bukankah kita semua
tahu, orang-orang yang terjun ke dunia seni—musik, sastra, lukis, dsb—selalu punya
sisi unik yang menjadi ciri khas mereka?
Dengan
pengecualian pada pendapat Bang Tere soal kaum sosialis, saya berpendapat
tindakan-tindakan beliau selama ini merupakan ciri khas yang beliau miliki,
identitasnya sebagai penulis.
Dan sekalipun
Bang Tere benar-benar khilaf saat berpendapat soal kaum sosialis itu, saya
lebih memilih untuk tak terlalu ambil pusing. Karena toh pelajaran yang saya
dapat dari novelnya, bukan soal siapa saja yang memerdekakan negara ini. Melainkan
soal bagaimana manusia harus bersyukur dan berbaik sangka pada segala hal yang
hidup berikan.
Sekian.
Salam,
Abdullah
S.N

Komentar
Posting Komentar