Jumat, 11 Januari...
Akhir-akhir ini, saya lagi seneng nonton film buatan sineas lokal hasil rekomendasi para kritikus di blog atau media sosial. Kebanyakan film yang direkomendasikan itu adalah film-film underrated tapi bagus dari segi kualalitas. Saya menyebutnya, film-film bagus yang tak dilirik.
Saya sangat menikmati aktivitas ini, bukan hanya karena bisa menyaksikan film yang lebih berkualitas. Tapi juga jadi tahu nama-nama film maker tanah air berikut karya-karyanya. Dari kegiatan ini saya berkenalan dengan film-film lama Joko Anwar, semisal Kala, Janji Joni atau Pintu Terlarang. Saya jadi mengagumi akting Ladya Cheryl lantaran perannya di film Fiksi., Kebun Binatang, atau yang lebih populer lagi, Ada Apa dengan Cinta?. Mouly Surya, Riri Riza, Edwin, Tedy Soeriaatmadja dan banyak nama lain saya kenal dari kegiatan ini.
Film terakhir yang saya tonton juga merupakan rangkaian dari kegiatan itu. Lovely Man. Setidaknya ada tiga lebih sumber yang merekomendasikan Lovely Man sebagai film wajib tonton.
Ada tiga alasan kenapa Lovely Man direkomendasikan. Pertama, karena tema yang dipakai sangat berani. Dua, karena film ini sudah melalang buana di berbagai festival dunia, tapi tak diterima di negerinya sendiri. Dan yang ketiga, film ini memiliki kekuatan besar yang terdapat pada rangkaian dialog antara anak-bapak yang sangat intim.
Lovely Man mengisahkan tentang Cahaya (Raihaanun), remaja berjilbab sembilan belas tahun yang datang ke Jakarta untuk menemui Bapaknya yang bernama Syaiful (Donny Damara). Bermaksud mengadukan masalah yang tengah dihadapinya, Cahaya justru mendapati berbagai fakta yang mengguncang hati. Soal pekerjaan Bapaknya yang ternyata seorang waria, masa lalunya dan keluarganya, alasan kenapa Bapaknya meninggalkan dirinya, juga tentang prinsip-prinsip yang selama ini anut ternyata tak lebih dari sebuah topeng.
Semakin larut Cahaya dan Syaiful Ipuy menyusuri jalanan ibukota, semakin banyak borok yang terkuak. Diselingi nasihat-nasihat dan pertanyaan, obrolan antara waria berbaju ngejreng dan remaja berjilbab itu tiba pada sebuah masalah yang pelik. Ketika akhirnya fajar menyingsing dan adzan subuh berkumandangkan, Ipuy membuat Cahaya berjanji untuk tak berusaha mencarinya lagi setelah itu. Janji yang sekaligus merupakan akhir paling rasional dan tidak bisa lebih baik lagi (Tonton dan kalian akan tahu mengapa).
Ketika Lovely Man memasuki babak akhir dan kemudian muncul kredit title, saya membenarkan ketiga poin yang ada di ulasan. Film berbujet rendah ini menyuguhkan sebuah cerita indah tanpa harus memoles diri secara berlebih. Seperti A Copy of My Mind, film ini juga bakal mengajak kita menikmati dunia semerawutnya kaum golongan bawah. Cahaya dan Ipuy yang merupakan orang biasa-biasa saja yang semakin menambah kedekatan kita pada keduanya. Bukankah akan lebih mudah menyukai satu film, jika kita memiliki kedekatan pada tokoh-tokohnya, betapa pun sederhana film itu.
Membicarakan prestasi, Lovely Man telah wara-wiri total ke delapan belas kota di dunia. Film besutan Teddy Soeriatmadja (suami Raihaanun di dunia nyata) ini premier pertamakali di Busan Internasional Film Festival pada 7 Oktober 2011. Baru pada 10 Mei 2012, film berdurasi 76 menit ini rilis di bioskop tanah air, meski harus diwarnai penolakan beberapa kaum agama perihal temanya yang kontroversial.
Terlepas dari itu semua, saya menyukai film ini sebab saya memang suka film yang menyajikan isu-isu realistis dari kaum yang selama ini luput dari pandangan umum. Film-film seperti itu selalu membawa perspektif baru, menjadikan saya dapat melihat segala sesuatu lewat pandangan yang berbeda.
Salam,
Abdullah S.N


Komentar
Posting Komentar