Jumat, 18 Januari 2019...
Sejak awal, Alangkah Lucunya Negeri Ini telah melontarkan pertanyaan terbesarnya : Apa pendidikan itu penting?
Pertanyaan tersebut keluar ketika terjadi perbedaan pandangan antara Pak Makbul (Deddy Mizwar) dan H. Sarbini (Jaja Miharja), dengan H. Rahmat (Slamet Rahardjo) sebagai penengahnya. Pak Makbul bersikeras mengatakan pendidikan itu penting, sedang H. Sarbini kekeh berpendapat tidak.
Pertanyaan yang terlontar dari 'golongan tua' itu akan terjawab oleh rentetan kejadian yang dialami 'golongan muda', yaitu Muluk (Reza Rahadian), Pipit (Tika Bravani), Samsul (Asrul Dahlan) dan sejumlah anak jalanan yang berprofesi sebagai pencopet.
Muluk adalah anak tunggal Pak Makbul. Ia seorang sarjana manejemen yang tengah kesulitan mencari kerja. Berbulan-bulan berstatus pengangguran, ia tak terima ketika melihat seorang bocah dengan enteng mengambil dompet milik bapak-bapak. Baginya tindakan Komet (Angga Putra), nama anak tadi sama saja dengan tak menghargai kerja kerasnya dalam mencari pekerjaan selama ini.
Ketika secara tak sengaja Muluk kembali bertemu Komet, ia tiba-tiba mempunyai satu ide. Ia minta diajak berkunjung ke tempat tinggal Komet dan menemui Jarot (Tio Pakusadewo), pimpinan para anak jalanan. Muluk menyampaikan gagasannya untuk melakukan kerja sama. Ia akan mengatur uang hasil mencopet anak-anak sekaligus mengembangkannya ke sektor yang lebih aman dan menjanjikan.
Mulanya timbul penolakan dari anak-anak, utamanya dari Glen (Moh Irfan Siagian) ketua pencopet area Mall. Mereka tak rela bagian 10% nya diberikan pada orang yang tak ikut 'bekerja'. Tapi begitu melihat hasil pengaturan Bang Muluk berupa buku tabungan dan sebuah motor baru, perlahan mereka mulai percaya.
Kepercayaan itu dimanfaatkan Muluk dengan meminta sebagian dari anak-anak beralih profesi dari pencopet menjadi pengasong. Namun, mereka kompak menolak sebab bagi mereka ngasong itu melelahkan, hasilnya pun tidak seberapa jika dibandingkan dengan mencopet.
Dari sini Muluk sadar, jika ia ingin mengubah perilaku anak-anak, ia harus terlebih dahulu mengubah pola pikir mereka. Ia kemudian mendatangkan Samsul, tetangganya yang sarjana pendidikan tapi setiap hari kerjanya cuma main geplek di rondan. Ia meminta Samsul mengajarkan berbagai disiplin ilmu pada anak-anak.
Pertanyaan 'golongan tua' untuk pertamakalinya coba dijawab. Lewat karakter Samsul inilah, Muluk secara menggantung menyampaikan jawabannya.
"Waktu kuliah gue pikir pendidikan itu penting. Tapi setelah gue keluar kuliah, gue baru tahu kalau pendidikan itu tidak penting."
"Nah, itu, itu hasil pendidikan, Sul. Kalau lo nggak berpendidikan lo nggak akan tahu bahwa pendidikan itu nggak penting. Makanya pendidikan itu penting.
Samsul terdiam tak berkutik. Kemudian ia tersenyum getir. "Gila lu ya. Pusing gue."
(Dialog asli di film Alangkah Lucunya Negeri Ini, penambahan murni dari penulis)
Kenapa jawaban Bang Muluk saya sebut masih gantung, ya karena ia membenarkan pentingnya pendidikan, tapi juga sekaligus menyangkalnya.
Tak berhenti di Samsul, anak-anak ketambahan satu guru baru. Ketika Muluk mengaku sudah punya pekerjaan, H. Sarbini memintanya untuk mengajak putrinya Pipit bekerja di sana. Permintaan itu tak bisa ditolak, sehingga mulai bergabunglah Pipit sebagai pengajar agama.
Sedikit demi sedikit dengan berbagai macam metode pembelajaran, Muluk, Samsul dan Pipit berhasil memercikkan api semangat di diri anak-anak. Ketiganya menanamkan pentingnya pendidikan lewat sebuah pemaparan unik. Bahwa yang membedakan pencopet dan koruptor, hanyalah bila koruptor itu maling yang berpendidikan, sedang pencopet tidak.
Namun sayang, saat ketiganya tengah sangat antusias, usaha terselubung itu harus terbongkar oleh orangtua mereka. Tekad untuk memberi pendidikan layak pada anak-anak jalanan harus disudahi. Pertentangan batin yang timbul akibat uang yang mereka terima adalah uang haram, membuat mereka memilih kembali ke keadaan semula : nganggur!
Kepergiaan Bang Muluk dan kawannya membuat kekacauan di kubu anak jalanan. Mereka terpecah menjadi dua kelompok. Satu, mereka yang tetap memegang prinsip dan bersedia mengasong. Dan kedua, mereka yang kembali ke kebiasaan semula yaitu mencopet.
Di titik ini pertanyaan 'golongan tua' kembali coba dijawab. Kali ini tak lewat barisan kalimat seperti yang dilakukan Bang Muluk, melainkan oleh dua kejadian kontradiksi yang dialami anak-anak jalanan. Meskipun ya, jawabannya sama-sama masih nggantung.
Kelompok yang percaya pendidikan itu penting (baca : anak yang ngasong) pada akhirnya toh masih harus terbirit-birit menghindari barisan Satpol PP dengan dalih ketertiban lalulintas-nya. Sedang kelompok yang tak percaya (baca : anak yang tetap nyopet) digambarkan tengah dikejar-kejar masa lantaran ketahuan mencuri.
Di titik ini saya merasa penuh oleh pertanyaan. Bukankah bila begitu akhirnya, sama sekali tidak ada beda antara orang yang percaya dan tidak? Mereka sama-sama akan tergilas oleh ideologi mereka sendiri. Sebenarnya pendidikan itu benar penting tidak, sih? Kalau ya, apa pentingnya? Kalau tidak, maka kenapa pendidikan digembar-gemborkan dan digelar bagai dagangan.
Di titik inilah, ideologi saya kembali dipertanyakan, bukan oleh orang lain, tapi oleh diri saya sendiri.
Bagian akhir film ini sekaligus menjadi bagian paling emosional. Sebab adegan kejar mengejar itu ditampilkan serentak bersama parade anak SD yang tengah menyambut presiden (lengkap dengan bendera yang dikibar-kibarkan), kemacetan luar biasa Kota Jakarta, serta ketidakacuhan sejumlah pihak ketika terjadi kedzaliman di sekitar mereka. Tiga kali saya nonton film ini, tiga kali pula saya buncah oleh air mata ketika tiba di bagian ini.
Selain dari ceritanya, film yang disutradarai oleh Deddy Mizwar ini menarik dari segi akting para pemainnya. Reza Rahadian, Tika Bravani, dan Tio Pakusadewo adalah beberapa karakter yang paling saya sukai.
Sementara itu, dua lagu di film ini sukses menjadi sountrack berdaya magis, yang tak hanya berperan sebagai penyemarak, tapi juga meniupkan ruh pada ceritanya: Balada Sejuta Wajah dari Ahmad Albar dan Jalan Pulang milik God Bless. Niscaya, cerita ini tak akan semenarik ini jika dua lagu itu dihilangkan.
Pada akhirnya, film ini sangat direkomendasikan untuk disaksikan. Ada pesan dan realita di dalamnya yang menurut saya penting untuk direnungkan, utamanya oleh kita yang hidup di negara bebas dan menuntut kebebasan. Jangan sampai kita, atau mungkin kelak anak cucu kita, menertawakan sendiri kelucuan demi kelucuan yang ada di negerinya sendiri.
Salam,
Abdullah S. N





Komentar
Posting Komentar